2.05.2017

Istirahatlah Kata-Kata, Kisah Wiji Thukul Sang Penyair Yang Hilang

Wiji Thukul Sang Penyair, Hanya ada satu kata: Hilang !! 
Film ini menceritakan tentang Whiji Tukul seorang penyair yang hilang dan sampai saat ini tidak pernah diketahui keberadaannya. 

Judul Film  : Istirahatlah Kata-kata
Genre          : Drama, Biografi
Produser    : Yosep Anggi Noen, Yulia Evina Bhara, Tunggal Pawestri, Okky Madasari
Sutradara   : Yosep Anggi Noen
Penulis        : Yosep Anggi Noen
Produksi     : Muara Foundation, Kawan Kawan Film, Partisipasi Indonesia, Limaenam Film

Pemain :
  • Gunawan Maryanto sebagai Wiji Thukul
  • Marissa Anita sebagai Sipon (istri Wiji Thukul)
  • Dhafi Yunan sebagai Thomas
  • Eduwart Boang sebagai Martin
  • Melanie Soebono sebagai Istri Martin
Jujur aku tidak ada gambaran sama sekali tentang tokoh bernama Whiji tukul, yang di film ini diceritakan sebagai salah satu tokoh yang cukup disegani di masa orde. Film yang didalamnya penuh dengan kesunyian tapi sarat akan makna sebagai pesan yang ingin sang sutradara sampaikan kepada para penonton.
Dok. Hollywood Reporter
Aku menikmati potongan-potongan awal adegan film ini sambil bergumam dalam hati, ini termosnya sama kayak dirumahku, dapurnya masih dapur cemong warna hitam, ah seolah aku bisa melihat dapur dirumahku saat usiaku 6 tahun. Ya film ini mengambil latar tahun 1996 saat seorang Wiji thukul harus menjadi buronan bersembunyi dari satu tempat ke tempat lain, bahkan harus berganti identitas untuk mempertahankan hidupnya agar tidak tertangkap polisi.

Dirumahnya dikota solo istri wiji thukul, sipon bersama 2 orang anaknya Wani dan fajar harus mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan dari petugas kepolisian yang hampir setiap hari datang menginterogasi keberadaan wiji thukul bahkan mengawasi rumah mereka selama 24 jam.

Wiji thukul adalah salah satu yang memprakarsai pembentukan Partai Rakyat Demokratik (PRD) dan karena itulah dia jadi buronan petugas. Wiji thukul pergi ke pontianak untuk menghindari petugas polisi dijawa, disana dia menumpang dirumah teman-temannya, Thomas dan Martin bahkan sempat berganti nama menjadi Paul.
Dok. storibriti
Disela-sela pelariannya dia masih setia menyuarakan aspirasinya termasuk dalam puisi, karna puisi-puisinya inilah yang dirasa akan membahayakan pemerintahan maka wiji menjadi incaran petugas di masa pemerintahan presiden soeharto.

Wiji thukul memutuskan pulang kembali ke kota solo untuk menemui keluarganya sebelum dia memutuskan untuk pergi ke Jakarta bergabung dengan aktivis lainnya. Tahun 1998 saat meletus kerusuhan dijakarta serangkaian operasi penculikan para aktivis, konon mereka ditahan dan disiksa di penjara-penjara tersembunyi, dan sejak saat itu seorang Wiji Thukul tidak pernah ditemukan.

Keterasingan dan Kesunyian
Di film ini kita tidak akan melihat hiruk-pikuk demonstrasi atau teriakan-teriakan perjuangan, di film ini yang akan kita rasakan adalah kesunyian dari adegan yang minim percakapan. Potongan puisi yang digumamkan Wiji dalam keterasingannya, lirih terdengar dari suaranya yang sedikit cadel, sebuah suara dari orang yang sudut matanya dibuat memiliki bekas luka dari hasil benturan senjata petugas polisi.

Tahun 1996 saat itu aku masih berusia 6 tahun dan aku sama sekali tidak paham betapa banyak beriya peristiwa penting yang terlewatkan dipemahamanku waktu itu, aku juga tidak mengetahui bahwa saat itu bungkam menjadi pilihan banyak orang untuk bertahan hidup. Dan disaat aku masih belajar mengeja serta merangkai huruf dan angka ada seseorang yang sedang berusaha mati-matian menyuarakan ketidakadilan yang dirasakan rakyat melalui tulisan-tulisan serta puisi yang membuat gerah pemerintahan pada saat itu.

Ini ada beberapa puisi karya Wiji Thukul yang cukup terkenal di masa-nya.

Istirahatlah Kata-Kata

Istirahatlah kata-kata
jangan menyembur-nyembur
orang-orang bisu

kembalilah ke dalam rahim
segala tangis dan kebusukan
dalam sunyi yang mengiris

tempat orang-orang mengingkari
menahan ucapannya sendiri
tidurlah kata-kata
kita bangkit nanti
menghimpun tuntutan-tuntutan
yang miskin papa dan dihancurkan

tidurlah kata-kata
kita bangkit nanti
menghimpun tuntutan-tuntutan
yang miskin papa dan dihancurkan

nanti kita akan mengucapkan
bersama tindakan
bikin perhitungan
tak bisa lagi ditahan-tahan
(12 Agustus 1988)

Peringatan

jika rakyat pergi
ketika penguasa pidato
kita harus hati-hati
barangkali mereka putus asa

kalau rakyat bersembunyi
dan berbisik-bisik
ketika membicarakan masalahnya sendiri
penguasa harus waspada
dan belajar mendengar

bila rakyat berani mengeluh
itu artinya sudah gawat
dan bila omongan penguasa tidak boleh dibantah
kebenara pasti terancam

Apabila usul ditolak tanpa ditimbang
suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
dituduh subversif dan mengganggu keamanan
maka hanya ada satu kata: lawan !
(1986)

Mungkin ada diantara teman-teman yang punya cerita tentang sang penyair yang satu ini, bisa share di kolom komentar yaa.

5 komentar:

  1. Hmmm... Keren Puisinya.
    tetapi sebenarnya yang bergerak tidak hanya Pemimpin
    Rakyat juga harus ikut bekerjasama dengan baik

    BalasHapus
  2. Filmnya cukup emosional. Tapi sayangnya nggak bercerita bagaimana perlawanan Wiji terhadap pemerintah saat itu. Penggambaran lanskap Pontianak yang sepi mendukung cerita banget. Dan endingnya paling keren, menggambarkan kepergian Wiji dengan simbolik yang apik.

    BalasHapus
  3. sayang sekali sang legenda telahhilang tak tau rimbanya

    BalasHapus
  4. ini penikmat puisi pasti suka dengan filmnya, aku kayanya bingung kalau minim dialog mbak

    BalasHapus

Terimakasih sudah berkomentar yang positif yaa.. Jangan ragu untuk memberi saran dan tanggapan positif, untuk curhat pengalaman juga boleh feel free selama masih sopan
Salam hangat dari Mojang Ciamis

COPYRIGHT © 2017 · MUDRIKAH STORIES | THEME BY RUMAH ES