Women Talks

Bijak Menggunakan SKM, Menuju Indonesia Generasi Emas

Saat diminta membeli susu di warung atau di minimarket secara tidak sadar pikiranku pasti mengarah pada membeli Susu Kental Manis yang memang rutin aku beli untuk persediaan di rumah. Beberapa bulan yang lalu aku mendengar seloroh bahwa SKM bukanlah susu, dan tidak bisa dijadikan sebagai susu. Bodohnya aku masih betah dengan pikiran lamaku, yaitu SKM adalah susu.

Saat melihat berita tentang SKM di televisi akuoun sempat membicarakannya dengan mamah dn bapak, “iya mah sekarang infonya SKM hanya boleh buat bahan pendamping makanan, gak boleh diminum langsung sebagai susu” “Lalu mamah minum susu apa dong?” “Nanti aku beliin susu high kalsium aja ya” “Tapikan itu mahal” “Iya gak apa-apa, semoga nanti ada rezekinya”

30 Juli 2018 aku menghadiri acara penandatanganan MoU antara PP Muslihat dan YAICI (Yayasan Abhipraya Insan Cendikia Indonesia) tentang Edukasi Masyarakat “Bijak Menggunakan SKM”, acara ini diadakan dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional 2018 yang bertujuan untuk memberikan informasi tentang bagaimana cara bijak mengkonsumsi SKM.

Saat acara hadir para pembicara
1. Ibu Eni Gustina, MPH, direktur Kesga Kemenkes RI
2. Ibu Dr. Sri Mulyati Ketua I PP Muslimat NU
3. Ibu Dra. Mauzziati Purba, Apt, M, Kes. direktur Standarisasi Pangan Olahan BPOM
4. Bpk. Arif Yahya Perwakilan Dari YAICI

Menurut aku acara ini memang sangat perlu dilakukan karena mengubah pola pikir masyarakat yang sudah bertahun-tahun menganggap SKM adalah Susu sama seperti susu bubuk dan susu murni adalah suatu program yang tidak mudah, perlu kerjasama dari berbagai pihak, dalam hal ini pemerintah dan pihak berwenang lainnya, dan tentunya kuta semua yang sudah mengetahui fakta tersebut.

Fakta Mengenai SKM
1. SKM mengandung 40-50% gula
2. SKM mengandung lebih banyak gula daripada protein
3. SKM dilarang untuk anak dibawah 12 Bulan

Sejak BPOM mengeluarkan HK.06.5.51.511.05.18.2000 Tahun 2018 Tentang Label dan Iklan Pada Produk Susu Kental dan Analognya (Kategori Pangan 01.3), susu kental manis menjadi topik yang diperbincangkan publik. Dengan keluarnya Surat Edaran tersebut sekaligus menegaskan bahwa SKM tidak untuk konsumsi anak-anak. Berbagai argumen datang dari berbagai kalangan, pakar kesehatan, DPR, pemerintah hingga kalangan masyarakat. Penyebabnya adalah, selama bertahun-tahun persepsi yang terbentuk di masyarakat bahwa SKM adalah susu.

Karena pemahaman yang salah selama bertahun-tahun inilah kita sering kecolongan pada masa emas pertumbuhan anak. Konsumsi SKM yang berlebihan bisa menyebabkan stunting dan obesitas pada anak karna terlalu banyak mengandung gula. Bagi orang dewasa pun bisa menyebabkan terkena penyakit tidak menular seperti, jantung, kolesterol, diabetes dan penyakit tidak menukar lainnya.

Berkaitan dengan SKM, Ibu Eni mengatakan bahwa Susu Kental Manis bukan diperuntukan untuk bayi dan anak-anak karena kandungan gulanya yang tinggi. “SKM ini adalah hampir 50 persen isinya gula sehingga tidak bisa disetarakan dengan susu berprotein tinggi”
“Negara telah banyak mengeluarkan uang untuk pengobatan penyakit tidak menular (PTM). Menurutnya, Kementerian Kesehatan telah melakukan berbagai upaya salah satunya adalah sosialisasi terkait konsumsi gula, garam dan lemak (GGL)”

Edukasi bijak menggunakan SKM nantinya akan langsung menyasar masyarakat di sejumlah kota di Indonesia. Dengan edukasi langsung terhadap masyarakat diharapkan secara perlahan persepsi masyarakat dapat berubah. masyarakat juga dapat lebih memahami fungsi produk susu kental manis sebagai bahan makanan dan tidak ada lagi yang memberikan untuk konsumsi atau minuman anak.

Saat acara juga diadakan lomba membuat makanan menggunakan SKM, makanan olahan dari mulai puding, kue, singkong Thailand dan banyak lagi makanan olahan lainnya.

Semoga dengan adanya acara ini bisa memberikan pencerahan baru tentang konsumsi SKM dan mengedukasi masyarakat lainnya yang belum mengetahui informasi penting ini.

Leave a Reply

Follow Me on Instagram