Pernahkah kita membayangkan bahwa apa yang terjadi di dalam hutan ternyata bisa berpengaruh terhadap makanan yang tersaji di meja makan setiap hari?
Selama ini, ketika mendengar istilah kebakaran hutan dan lahan (karhutla), mungkin yang langsung terlintas di pikiran kita adalah hutan yang terbakar, kabut asap, gangguan pernapasan, hingga kerusakan lingkungan. Padahal, dampaknya jauh lebih luas dari itu. Ada satu hal penting yang sering luput dari perhatian, yaitu hubungan antara kerusakan ekosistem, hilangnya keanekaragaman hayati atau biodiversitas, dan terancamnya sumber pangan manusia.
Isu karhutla sebenarnya menjadi pintu masuk untuk memahami hubungan yang lebih luas antara iklim, ekosistem, biodiversitas, dan pangan. Apa yang terjadi pada sebuah ekosistem tidak hanya berdampak pada tumbuhan dan satwa yang tinggal di dalamnya, tetapi juga dapat memengaruhi kehidupan manusia, termasuk ketersediaan bahan pangan.
Hal inilah yang membuat saya semakin tertarik untuk mengenal lebih jauh tentang pentingnya menjaga keberagaman sumber pangan, terutama di tengah perubahan iklim dan tekanan terhadap lingkungan.
Belajar dari Webinar “Dari Gambut ke Meja Makan”
Pada Jumat, 16 Oktober 2026, saya berkesempatan mengikuti webinar bertema “Dari Gambut ke Meja Makan: Menelusuri Kaitan Karhutla, Biodiversitas, dan Pangan.”
Webinar ini menghadirkan dua narasumber, yaitu Mas Yoga dari Pantau Gambut dan Ahmad Arif (Aik), seorang jurnalis Kompas.

Diskusi yang berlangsung memberikan banyak perspektif baru tentang bagaimana kerusakan ekosistem gambut akibat karhutla ternyata memiliki hubungan erat dengan keberagaman hayati dan ketahanan pangan masyarakat.Disclosure
Salah satu hal yang menarik perhatian saya adalah bahwa gambut bukan sekadar lahan basah atau kawasan rawa yang terlihat kurang produktif. Justru, ekosistem gambut memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan.
Secara alami, gambut mampu menyimpan air dalam jumlah besar, menjaga kelembapan tanah, menyimpan karbon, serta menjadi habitat bagi berbagai jenis tumbuhan dan satwa.
Namun, ketika gambut dikeringkan melalui pembangunan kanal drainase dan mengalami alih fungsi lahan, kondisi alaminya berubah. Gambut yang seharusnya basah menjadi kering dan lebih mudah terbakar.
Ketika kebakaran terjadi, api bahkan dapat menjalar hingga ke lapisan bawah tanah. Inilah yang membuat kebakaran gambut sering kali sulit dipadamkan dan bisa berlangsung lama.
Dampaknya bukan hanya kabut asap yang mengganggu kesehatan manusia, tetapi juga rusaknya habitat, hilangnya berbagai jenis tumbuhan dan satwa, serta terganggunya keseimbangan ekosistem.
Dari sini saya mulai memahami bahwa menjaga gambut bukan hanya tentang menyelamatkan hutan, tetapi juga menjaga sumber kehidupan manusia, termasuk sumber pangan.
Mengapa Karhutla Bisa Mengancam Keberagaman Pangan?
Biodiversitas atau keanekaragaman hayati merupakan kekayaan berbagai bentuk kehidupan, mulai dari tumbuhan, hewan, mikroorganisme, hingga ekosistem tempat mereka hidup.
Dalam konteks pangan, biodiversitas memiliki peran yang sangat penting. Alam menyediakan beragam sumber makanan yang dapat dimanfaatkan manusia, mulai dari buah-buahan, biji-bijian, umbi-umbian, tanaman pangan hutan, hingga berbagai jenis ikan dan hewan.
Ketika ekosistem mengalami kerusakan akibat karhutla, keberadaan berbagai sumber pangan tersebut juga ikut terancam.
Ada beberapa alasan mengapa kerusakan ekosistem dapat berpengaruh terhadap ketahanan pangan:
- Hilangnya habitat tanaman pangan.Kebakaran dapat merusak tempat tumbuh berbagai jenis tanaman yang selama ini dimanfaatkan masyarakat sebagai sumber makanan.
- Menurunnya keanekaragaman hayati. Ketika berbagai spesies tumbuhan dan satwa kehilangan habitatnya, keseimbangan ekosistem ikut terganggu.
- Terganggunya sumber penghidupan masyarakat. Masyarakat yang bergantung pada hasil hutan, pertanian, perikanan, dan sumber daya alam lainnya bisa kehilangan mata pencaharian.
- Risiko gagal panen akibat perubahan lingkungan. Kerusakan tata air, perubahan suhu, dan kondisi cuaca ekstrem dapat memengaruhi produktivitas pertanian.
- Ketergantungan pada satu jenis pangan semakin berisiko. Jika masyarakat hanya mengandalkan satu sumber karbohidrat, gangguan produksi pada komoditas tersebut bisa berdampak besar terhadap ketersediaan makanan.
Dari diskusi webinar tersebut, saya semakin menyadari bahwa ketahanan pangan tidak cukup hanya dilihat dari seberapa banyak beras yang tersedia. Kita juga perlu memperhatikan keberagaman sumber pangan yang dimiliki Indonesia.
Diversifikasi Pangan Lokal, Mengapa Penting?
Indonesia memiliki kekayaan sumber pangan yang luar biasa. Setiap daerah mempunyai potensi bahan pangan, kebiasaan makan, dan cara pengolahan yang berbeda.
Sayangnya, dalam kehidupan sehari-hari, sebagian besar masyarakat sudah sangat terbiasa menjadikan nasi sebagai makanan pokok. Bahkan, terkadang muncul anggapan bahwa belum makan kalau belum makan nasi.
Padahal, ada banyak sumber karbohidrat lain yang bisa kita manfaatkan, seperti singkong, ubi jalar, jagung, talas, sagu, dan berbagai jenis umbi-umbian.
Inilah yang disebut dengan diversifikasi pangan, yaitu upaya untuk memperkenalkan dan meningkatkan konsumsi berbagai jenis pangan agar masyarakat tidak bergantung pada satu jenis bahan makanan saja.
Dalam UU Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan, pangan lokal dijelaskan sebagai makanan yang dikonsumsi masyarakat setempat sesuai dengan potensi dan kearifan lokal.
Artinya, pangan lokal tidak harus selalu berupa tanaman yang sejak awal berasal dari Indonesia. Bahan pangan yang diperkenalkan dari luar tetapi sudah beradaptasi dan menjadi bagian dari pola konsumsi serta budaya masyarakat setempat juga dapat disebut pangan lokal.
Ada beberapa manfaat diversifikasi pangan yang perlu kita ketahui:
- Mengurangi ketergantungan terhadap beras sebagai satu-satunya sumber karbohidrat.
- Memanfaatkan potensi sumber daya alam di daerah masing-masing.
- Membantu menjaga keberagaman tanaman pangan.
- Membuka peluang ekonomi bagi petani dan pelaku usaha pangan lokal.
- Mengenalkan kembali makanan tradisional kepada generasi muda.
- Membantu keluarga memiliki pilihan menu yang lebih beragam dan bergizi seimbang.
Menurut saya, diversifikasi pangan bukan berarti kita harus berhenti makan nasi. Namun, kita bisa mulai memberikan ruang bagi bahan pangan lain agar semakin sering hadir di meja makan keluarga.
Mengenal Potensi Pangan Lokal dari Ciamis: Ubi, Singkong, dan Jagung
Sebagai seseorang yang berasal dari Ciamis, Jawa Barat, saya mencoba melihat kembali potensi bahan pangan yang sebenarnya cukup dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ternyata, ada banyak sumber pangan yang mudah ditemukan di sekitar tempat tinggal dan bisa dimanfaatkan sebagai alternatif pengganti nasi.
Di sekitar rumah saya, terutama di area kebun dan pematang sawah, orang tua saya bersama warga sekitar masih banyak menanam pohon singkong, ubi, dan jagung. Tanaman-tanaman ini sudah cukup akrab dengan kehidupan masyarakat di lingkungan saya.
Melihat hal tersebut, saya jadi berpikir bahwa sebenarnya kita memiliki sumber pangan alternatif yang melimpah di sekitar. Hanya saja, terkadang kita belum terbiasa mengolahnya menjadi menu makanan sehari-hari.
Padahal, ketiga bahan pangan tersebut memiliki potensi yang cukup besar untuk membantu mengurangi ketergantungan terhadap beras.
1. Ubi, Sumber Karbohidrat yang Mudah Ditemukan
Ubi jalar merupakan salah satu jenis umbi-umbian yang cukup mudah ditemukan di lingkungan pedesaan. Tanaman ini bisa tumbuh di lahan kebun dan tidak selalu membutuhkan perawatan yang rumit.
Selain menjadi sumber karbohidrat, ubi juga mengandung serat, vitamin, dan mineral yang bermanfaat bagi tubuh. Ada beberapa jenis ubi yang bisa kita temukan, mulai dari ubi putih, ubi kuning, hingga ubi ungu.
Salah satu hal yang saya sukai dari ubi adalah cara pengolahannya yang cukup sederhana. Bahkan, tanpa tambahan banyak bumbu pun, ubi sudah bisa dinikmati sebagai makanan yang mengenyangkan.
Beberapa ide olahan ubi yang bisa dicoba di rumah antara lain:
- Ubi kukus atau rebus. Ini cara paling sederhana. Ubi cukup dicuci bersih, dipotong sesuai ukuran, kemudian dikukus atau direbus sampai empuk.
- Ubi goreng. Ubi dipotong-potong, kemudian digoreng hingga bagian luarnya sedikit renyah dan bagian dalamnya tetap lembut.
- Perkedel ubi. Ubi yang sudah dikukus dan dihaluskan bisa dicampur telur, daun bawang, serta bumbu sederhana, lalu digoreng hingga matang.
- Ubi tumbuk. Ubi yang telah matang dihaluskan dan bisa disajikan dengan sedikit garam atau kelapa parut sesuai selera.
Jika ingin menjadikannya sebagai pengganti nasi, saya lebih tertarik mencoba ubi kukus atau ubi rebus. Rasanya sederhana, tetapi cukup mengenyangkan.
Untuk lauk pendampingnya, kita bisa menyajikan telur dadar, ayam suwir, ikan goreng, tahu, tempe, serta sayuran bening atau tumis kangkung.
2. Singkong, Pangan Lokal yang Serbaguna
Selain ubi, singkong juga menjadi salah satu tanaman yang banyak ditemukan di sekitar rumah saya. Bahkan, orang tua dan beberapa warga sekitar masih menanam singkong di area kebun maupun pematang sawah.
Tanaman ini cukup dikenal masyarakat karena mudah diolah menjadi berbagai jenis makanan. Bagian umbinya bisa dimanfaatkan sebagai sumber karbohidrat, sedangkan daunnya juga bisa diolah menjadi sayuran.
Singkong memiliki potensi besar sebagai alternatif pangan pengganti nasi. Di beberapa daerah Indonesia, singkong bahkan sudah lama menjadi bagian dari kebiasaan makan masyarakat.
Beberapa olahan singkong yang bisa kita coba di rumah antara lain:
- Singkong rebus. Singkong yang sudah dikupas dan dicuci bersih direbus sampai empuk. Bisa dinikmati bersama kelapa parut atau sambal sesuai selera.
- Singkong kukus. Alternatif yang lebih sederhana untuk menikmati singkong sebagai sumber karbohidrat.
- Combro. Makanan tradisional khas Jawa Barat yang dibuat dari parutan singkong dengan isian oncom berbumbu. Rasanya gurih dan cocok menjadi teman makan.
- Misro. Olahan singkong parut yang diisi gula merah, kemudian digoreng hingga matang. Rasanya manis dan menjadi salah satu jajanan tradisional yang cukup populer.
- Tumis daun singkong. Daun singkong bisa direbus terlebih dahulu, kemudian dimasak dengan bumbu sederhana sebagai lauk pendamping.
Kalau ingin menyajikan singkong sebagai pengganti nasi, saya tertarik membuat singkong rebus yang dipadukan dengan ikan asin, sambal, tumis daun singkong, atau tahu dan tempe goreng.
Menu sederhana seperti ini mungkin sudah akrab bagi sebagian masyarakat pedesaan, tetapi justru menjadi bukti bahwa bahan pangan lokal bisa diolah menjadi hidangan keluarga yang menarik.
3. Jagung, Sumber Karbohidrat yang Fleksibel
Selain ubi dan singkong, jagung juga menjadi pilihan bahan pangan yang menarik untuk dieksplorasi.
Di lingkungan sekitar rumah, jagung juga banyak ditanam oleh warga, termasuk di area kebun dan pematang sawah. Tanaman ini memiliki banyak manfaat dan bisa diolah menjadi berbagai hidangan, baik makanan utama maupun camilan.
Jagung merupakan salah satu sumber karbohidrat yang mengandung serat dan berbagai zat gizi lainnya. Di beberapa daerah, jagung bahkan sudah lama dimanfaatkan sebagai makanan pokok atau diolah menjadi berbagai hidangan tradisional.
Beberapa ide olahan jagung yang bisa dibuat di rumah antara lain:
- Jagung rebus. Praktis dan sederhana. Jagung cukup direbus hingga matang dan bisa dinikmati sebagai pengganti nasi.
- Nasi jagung. Jagung pipil yang telah dikeringkan dan diolah menjadi beras jagung dapat dimasak hingga menjadi nasi jagung. Teksturnya berbeda dari nasi putih, tetapi tetap cocok dinikmati bersama lauk.
- Perkedel jagung. Jagung pipil dicampur tepung secukupnya, telur, daun bawang, dan bumbu, kemudian digoreng hingga matang.
- Bubur jagung gurih. Jagung bisa diolah menjadi bubur dengan tambahan sayuran dan bumbu sederhana untuk menu keluarga.
Untuk menu makan sehari-hari, saya tertarik mencoba nasi jagung sebagai alternatif nasi putih.
Nasi jagung bisa disajikan bersama ikan asin, tempe goreng, tahu, sambal, dan sayur bening. Perpaduan rasa gurih, sedikit pedas, dan segarnya sayuran tentu bisa menjadi pilihan menu yang menggugah selera.
Sementara itu, jagung rebus juga cocok dipadukan dengan telur dan tumis sayuran sebagai menu sarapan atau makan malam.
Dari ketiga bahan pangan ini saja, ternyata ada banyak pilihan menu yang bisa kita sajikan untuk keluarga.
Tradisi dan Kearifan Lokal: Menjaga Pangan dari Generasi ke Generasi
Berbicara tentang pangan lokal tentu tidak bisa dilepaskan dari tradisi dan kebiasaan masyarakat di lingkungan tempat tinggal kita.
Di sekitar rumah saya, kebiasaan orang tua dan warga yang menanam singkong, ubi, serta jagung di kebun dan pematang sawah merupakan salah satu contoh sederhana bagaimana masyarakat memanfaatkan lahan yang tersedia untuk menghasilkan bahan pangan.
Lahan yang mungkin terlihat biasa saja ternyata bisa memberikan manfaat besar. Selain menghasilkan bahan makanan untuk kebutuhan keluarga, hasil panen juga bisa dimanfaatkan atau dibagikan kepada tetangga dan masyarakat sekitar.
Kebiasaan menanam berbagai jenis tanaman pangan ini juga menjadi salah satu bentuk diversifikasi pangan secara sederhana. Artinya, masyarakat tidak hanya bergantung pada satu jenis tanaman atau satu sumber makanan saja.
Jika melihat masyarakat di Jawa Barat, salah satu contoh menarik bisa ditemukan di Kampung Adat Cireundeu, Kota Cimahi. Masyarakat di sana memiliki tradisi mengonsumsi singkong yang diolah menjadi beras singkong atau dikenal dengan sebutan rasi sebagai makanan pokok.
Tradisi tersebut menunjukkan bahwa masyarakat sebenarnya bisa memiliki sumber pangan alternatif selain beras. Pengetahuan tentang cara mengolah dan memanfaatkan bahan pangan lokal diwariskan dari generasi ke generasi.
Sementara itu, di lingkungan Ciamis, keberadaan petani, kebun, lahan pertanian, dan pasar tradisional memiliki peran penting dalam menjaga ketersediaan bahan pangan lokal.
Kita juga mengenal berbagai olahan tradisional yang memanfaatkan hasil bumi, seperti singkong rebus, comro, misro, ubi kukus, hingga jagung rebus.
Menurut saya, peran masyarakat lokal sangat penting dalam menjaga keberagaman pangan. Petani yang tetap menanam berbagai jenis tanaman, keluarga yang mau mengolah hasil panen, pedagang pasar tradisional yang menyediakan bahan pangan lokal, serta orang tua yang mengenalkan makanan tradisional kepada anak-anak, semuanya punya kontribusi.
Kita tidak harus menjadi petani atau tinggal di kawasan pedesaan untuk ikut menjaga keberagaman pangan. Sebagai masyarakat biasa, kita bisa memulainya dari pilihan makanan yang dikonsumsi setiap hari.
Aksi Sederhana Menjaga Keberagaman Pangan Dimulai dari Rumah
Setelah mengikuti webinar ini, saya merasa bahwa menjaga lingkungan ternyata memiliki hubungan yang sangat dekat dengan kebiasaan sehari-hari.
Mungkin kita tidak bisa langsung menghentikan karhutla atau memulihkan ekosistem gambut yang sudah rusak. Namun, bukan berarti kita tidak bisa melakukan sesuatu.
Ada beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan keluarga untuk mendukung keberagaman pangan:
- Mulai mengenali bahan pangan di sekitar. Coba cari tahu jenis umbi-umbian, jagung, atau tanaman pangan lain yang mudah ditemukan di daerah tempat tinggal.
- Belanja hasil pertanian lokal. Membeli bahan pangan dari petani dan pedagang sekitar bisa membantu mendukung perekonomian masyarakat lokal.
- Mencoba menu selain nasi. Tidak perlu langsung mengubah kebiasaan makan keluarga. Mulailah dengan satu atau dua kali menyajikan ubi, jagung, atau singkong sebagai sumber karbohidrat.
- Mewariskan resep makanan tradisional. Belajar dari orang tua atau orang-orang yang masih memahami cara mengolah pangan lokal agar pengetahuan tersebut tidak hilang.
- Mengajak anak mengenal sumber makanan. Mengenalkan berbagai jenis tanaman pangan sejak kecil dapat membantu anak lebih menghargai makanan dan alam.
- Mendukung pelestarian lingkungan. Menghindari pembakaran lahan, menjaga tanaman di sekitar rumah, serta mendukung upaya perlindungan hutan dan gambut merupakan bagian dari menjaga sumber kehidupan.
Hal-hal kecil tersebut mungkin terlihat sederhana, tetapi jika dilakukan bersama-sama bisa menjadi kebiasaan baik yang memberikan dampak lebih luas.
Menjaga Alam, Meragamkan Piring, Menjaga Masa Depan
Dari webinar “Dari Gambut ke Meja Makan: Menelusuri Kaitan Karhutla, Biodiversitas, dan Pangan”, saya mendapatkan satu pelajaran penting bahwa lingkungan dan kehidupan manusia ternyata saling terhubung.
Kerusakan ekosistem akibat karhutla bukan hanya menyebabkan hilangnya hutan dan habitat satwa, tetapi juga berpotensi mengancam keberagaman sumber pangan yang selama ini menjadi penopang kehidupan masyarakat.
Biodiversitas merupakan kekayaan yang perlu dijaga karena dari sanalah kita mendapatkan berbagai sumber makanan untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Saya juga semakin menyadari bahwa ketahanan pangan tidak selalu harus dimulai dari program besar. Kita bisa ikut berkontribusi melalui kebiasaan sederhana, seperti mengenali bahan pangan lokal, mencoba resep tradisional, membeli hasil pertanian masyarakat sekitar, dan mulai mengurangi ketergantungan pada satu jenis makanan pokok.
Sebagai orang yang berasal dari Ciamis, saya merasa beruntung karena di sekitar rumah masih bisa menemukan berbagai tanaman pangan seperti ubi, singkong, dan jagung. Bahkan, orang tua dan warga sekitar masih memanfaatkan kebun serta pematang sawah untuk menanam bahan pangan tersebut.
Hal sederhana ini membuat saya semakin sadar bahwa potensi pangan lokal sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan kita. Tinggal bagaimana kita mau mengenali, memanfaatkan, dan melestarikannya.
Ke depannya, saya ingin lebih sering menyajikan olahan ubi, singkong, dan jagung di rumah serta mengenalkannya kepada anak-anak. Sebab, menjaga keberagaman pangan bukan hanya tentang apa yang kita makan hari ini, tetapi juga tentang bagaimana kita mewariskan kekayaan alam dan budaya kepada generasi berikutnya.
Karena menjaga alam bukan hanya tentang menyelamatkan hutan yang jauh dari rumah kita. Menjaga alam juga berarti menjaga agar suatu hari nanti, anak cucu kita tetap memiliki beragam pilihan makanan di meja makan mereka.
Jadi, sudah siapkah kita mulai meragamkan isi piring keluarga dari sekarang?