Life Style

Selamatkan Kesehatan Jiwa Remaja Untuk Generasi Muda Yang Tangguh dan Bahagia

Sebagai generasi milenial yang lahir dan tumbuh disekitar tahun 90-an, rasanya aku merasa masa kecilku dilalui dengan tenang dan damai tanpa ada konflik yang berarti.

Ditambah dengan latar belakang aku yang tinggal didaerah pedesaan yang cukup jauh dari hiruk-pikuk wilayah kota dengan segala keberagaman kebiasaanya.
Persoalan disekolahpun hanya sekedar kesulitan mencerna mata pelajaran dan ya sedikit lah di tambah kisah Cinta monyet anak sekolah.

Makanya saat mendengar cerita atau berita tentang pembullyan disekolah atau dilingkungan masyarakat kok ya aku dengernya miris banget, astagfirulloh ternyata ada ya orang-orang kayak gitu yang jahat banget sama temen-temennya.

Lalu aku flashback pada masa kecil, aku berfikir jangan-jangan malah aku yang jadi tukang bully nya.. Oh No.

Seringkali orang-orang menyimpulkan kualitas kesehatan hanya untuk menilai kesehatan fisik saja. Sakit kepala, sakit gigi, sakit jantung, kanker, itu adalah sakit yang sebenarnya. Tapi saat berbicara mengenai orang stress, trauma, jiwanya terguncang, kadang itu dipandang sebagai kelainan dan orang yng mengalaminya malah mendapatkan perlakuan seperti makhluk dari planet lain.
Padahal sebagai manusia kita seharusnya mempunyai keseimbangan antara kesehatan jasmani serta rohani, kesehatan jiwa dan kesehatan raga.

Pada tanggal 04 Oktober 2018 Kemenkes mengadakan Temu Blogger dalam rangka memperingati hari Kesehatan Jiwa Nasional.

Kesehatan menurut UU No. 36 tahun 2009 tentang kesehatan adalah keadaan sehat baik secara fisik, mental, spiritual maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis. Oleh sebab itu tidak akan ada kesehatan tanpa kesehatan jiwa.

Ada seorang teman yang pernah bercerita mengenai masa mudanya yang dihiasai beberapa kali percobaan bunuh diri. Yang menarik disini temanku ini berasal dari latar belakang keluarga yang berkecukupan bahkan bisa dibilang kaya raya dan tidak pernah kekurangan sesuatu apapun.

Ada beberapa faktor yang melatarbelakangi kenapa temanku ini melakukan hal bekad tersebut, salah satunya pernah mengalami yang namanya menjadi korban bullying di sekolah, dan juga kurangnya komunikasi dengan orangtua dirumah.

Dengan berkembangnya kecanggihan teknologi generasi muda di era milenial ini lebih banyak menghabiskan waktu mereka didunia maya. Hal ini lah yang menyebabkan mereka lebih rentan mengalami kejahatan cyber. Seperti cyber bullying atau bahkan kecanduan video game yang bertema kekerasan.

Setiap tanggal 10 Oktober diperingati sebagai Hari Kesehatan Jiwa Se-Dunia, dan untuk tahun ini tema yang digaungkan adalah ” Young Poeple And Mental health In a Changing World – Generasi Muda Yang Bahagia, Tangguh dan Sehat Jiwa, Menghadapi Perubahan Dunia”.

Mengapa remaja menjadi fokus utama pada hari kesehatan jiwa sedunia tahun ini ?? Ini berkaitan dengan remaja sebagai generasi penerus bangsa yang harus dipersiapkan baik secara fisik maupun mental.

Keluarga Sebagai Tempat Pendidikan Pertama Anak

Keluarga merupakan tempat pertama anak mendapatkan kasih sayang, pendidikan, serta keterampilan. Apa yang didapatkan oleh anak di tahun-tahun pertamanya tumbuh itulah yang nanti menjadi bekal dia saat memasuki fase sekolah dan lain-lain. Maka apa yang orangtua terapkan pada anak sangatlah penting sebagai pondasi perkembangan anak.

Pastinya ada kebiasaan yang berubah saat anak menginjak masa remaja, seperti meninggalkan rumah untuk sekolah atau kuliah. Pada fase ini adalah saat-saat yang menyenangkan bagi sebagian remaja kan tetapi sekaligus bisa menjadi hal yang menyebabkan stress dan ketakutan. Saat ini lah peran orangtua sangat dibutuhkan, bukan sebagai pembicara ulung tetapi sebagai pendengar yang baik. Berikan nasehat yang ringan tanpa menggurui, karena bisa saja pesan yang kita sampaikan malah menjadi suatu tekanan apabila disampaikan dengan cara yang salah.

Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kesehatan jiwa bagi para remaja :

  1. Keinginan untuk otonomi yang lebih besar, tekanan untuk menyesuaikan diri dengan teman sebaya, eksplorasi identitas seksual, dan peningkatan akses terhadap teknologi.
  2. Pengaruh media dan norma-norma gender dapat memperburuk disparitas antara realita hidup dan persepssi atau aspirasi mereka untuk masa depan
  3. Kualitas kehidupan dalam keluarga, hubungan dengan teman sebaya
  4. Tindak kekerasasn seperti pola pengasuhan kasar, penganiayaan, kekerasan seksual, bullying serta masalah sosio ekonomi.

Faktor-faktor tersebut apabila tidak bisa diatasi dengan baik bisa membuat kondisi kesehatan jiwa remaja menjadi terganggu, gangguan kesehatan jiwa pada remaja bermacam-macam bentuknya.

Beberapa gangguan yang patut di waspadai, yaitu :

  1. Gangguan perilaku masa anak
  2. Gangguan emosional
  3. Gangguan Makan
  4. Gangguan Psikosis
  5. Perilaku Beresiko
  6. Bunuh Diri

Hal-hal yang bisa kita lakukan saat mengetahui adanya gejala ganguan pada remaja adalah :

Upaya Preventif

  • Pencegahan dampak kekerasan seksual pada anak
  • Pencegahan tindakan bunuh diri
  • Pencegahan penyalahgunaan Alcohol dan Zat Psikotropika
  • Pencegahan perilaku seksual beresiko dengan memberikan pendidikan seks yang komprehensif

Hal-hak tersebut harus kita lakukan bersama demi terjaganya kondisi kesehatan jiwa bagi para remaja generasi penerus bangsa.

 

One Response

  1. Jangan Tanya Namaku 16 Oktober 2018

Leave a Reply

Follow Me on Instagram