Women Talks

Penanaman 1000 Pohon di Kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango

Aku Dan Penanaman 1000 Pohon di Kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Indonesia yang dikenal sebagai paru-paru dunia, karena keberagaman kawasan hutan yang ada didalamnya, saat ini sedang mengalami penurunan fungsi utama Hutan, terutama untuk jenis Hutan Lindung.

Menurut Undang-Undang No. 41 Tahun 1999, hutan lindung berfungsi untuk mengatur tata air, mengendalikan erosi, mencegah terjadinya banjir, mencegah intrusi air laut, serta menjaga tingkat kesuburan tanah. Biasanya, jenis hutan ini berada di tengah-tengah lokasi hutan produksi, hutan adat, hutan rakyat, ataupun di daerah yang berdekatan dengan pemukiman dan perkotaan.

Banyak hutan yang dibuka untuk lahan pertanian dan perkebunan, pohonnya ditebang secara liar sehingga menyebabkan kurangnya resapan air tanah. Yang lebih memprihatinkan banyak pihak yang tidak bertanggung jawab menggunakan cara instan untuk pembukaan lahan pertanian yaitu dengan cara pembakaran kawasan hutan dan menimbulkan bahaya lain yaitu kebakaran hutan sampai tercemarnya udara sekitar.
Contoh nyata dari menurunnya fungsi hutan adalah berkurangnya resapan air tanah yang menyebabkan banjir dan longsor dibeberapa daerah saat musim hujan, dan terjadinya kekeringan saat musim kemarau. Naiknya temperature udara seperti di puncak bogor yang saat ini temperature udaranya lebih panas dari sebelumnya, dan yang lebih parah adalah menipisnya lapisan ozon yang sangat berbahaya bukan hanya bagi manusia tapi bagi seluruh makhluk hidup.
Kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango di Jawa Barat termasuk salah satu hutan yang dilindungi oleh pemerintah, kawasannya meliput daerah Bogor, Cianjur serta Sukabumi. Kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango ini pun tidak luput dari fenomena tersebut. Kawasan hutannya dibuka untuk perkebunan sayuran sehingga lahan hutan semakin berkurang. Tuntutan kebutuhan ekonomi yang semakin tinggi akan tetapi tidak seimbang dengan penghasilan yang cukup memaksa warga sekitar menebang pohon-pohon untuk dijadikan lahan pertanian.
Pada tahun 2003 terbit Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. 174/Kpts-II/2003 tanggal 10 Juni 2003 yang menyatakan kawasan hutan produksi di sekitar kawasan TNGGP yang dikelola Perum Perhutani dialihfungsikan menjadi kawasan konservasi dan dikelola Balai Besar TNGGP. Dari areal alih fungsi seluas 7.655 hektare, 2.707,74 diantaranya dalam kondisi terbuka (terdegradasi) dan masih digarap oleh petani mantan peserta program Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM). Kondisi seperti di atas menimbulkan masalah sekaligus tantangan bagi Balai Besar TNGGP dalam penanganan lahan yang awalnya masyarakat diberikan ijin untuk mengolah lahan tetapi kemudian harus dihentikan.
Jumlah desa yang berbatasan langsung dengan TNGGP hasil identifikasi Penyuluh Kehutanan Balai Besar TNGGP Tahun 2016, yaitu 60 desa yang tersebar di 3 Bidang PTN Wilayah (Bidang PTN Wilayah I Cianjur 18 desa, Bidang PTN Wilayah II Sukabumi 25 desa, dan Bidang PTN Wilayah III Bogor 17 desa). Desa-desa tersebut tentunya memiliki banyak potensi sumberdaya alam yang berbeda satu dengan lainnya. Akan tetapi potensi tersebut belum sepenuhnya tergali dan teridentifikasi sehingga memerlukan upaya-upaya tertentu untuk membuatnya bermanfaat kepada masyarakat. Selain itu tidak menutup kemungkinan terdapat permasalahan-permasalahan yang dapat mengancam kelestarian kawasan TNGGP.
Salah satu Kecamatan yang termasuk Desa Penyangga Taman Nasional Gunung Gede Pangrango adalah Desa Cugenang di daerah Cianjur. Pemerintah Kecamatan Cugenang saat ini sedang bekerjasama dengan instansi-instansi pemerintah maupun swasta untuk melakukan penghijauan di daerah hutannya. Aku sangat beruntung bisa menjadi bagian dari program Adopsi 1000 Pohon dengan lokasi di desa Cijedil Kec Cugenang Kab. Cianjur.
Pohon yang dipilih adalah pohon endemik dan berbuah, jenis bibit pohon yang dipilih disesuaikan dengan permintaan dari warga desa Cijedil agar nantinya bisa bermanfaat bagi masyarakat. Bibit pohon yang ditanam adalah pohon Manggis, Jengkol dan Rambutan. Kepala Desa Cijedil Bpk. Pudin menyampaikan bahwa beliau bercita-cita untuk menjadikan Desa Cijedil ini sebagai Desa wisata, tepatnya agrowisata.

Diharapkan 3-4 tahun kedepan kawasan yang ditanami bibit pohon ini sudah bisa dinikmati oleh pengunjung. “Pastinya akan kami perbaiki tatanan kawasan ini, mungkin dengan adanya rumah huni, bisa untuk camping, kami akan mempercantik kawasan ini agar layak menjadi kawasan wisata” tutur pak Kades.

 

Pohon yang ditanam nantinya akan dikelola oleh kelompok tani di desa cijedil, 1000 pohon tersebut akan dikelola oleh 15 kepala keluarga. Program ini menurutku sangat bermanfaat tidak hanya untuk mempertahankan fungsi hutan tetapi bisa meningkatkan taraf ekonomi masyarakat sekitar. Aku lihat para petani di desa Cijedil sangat antusiaas dengan program adopsi 1000 pohon ini. Bpk. Sam selaku ketua kelompok tani desa Cijedil bekerjasama juga dengan Komunitas Green Initiative Foundation, selaku komunitas pecinta lingkungan di cianjur, sebelumnya pihak GIF sudah berhasil memberdayakan masyarakat Desa Sarongge yang juga berlokasi di Cianjur, dengan memberikan pelatihan pertanian organic dan kerajinan tangan. Tidak menutup kemungkinan di Cugenang juga nanti akan di hadirkan inovasi baru dalam bidang pertanian yang bisa memberdayakan seluruh masyarakat.
Kepala Desa Cijedil Bpk. Pudin menyampaikan bahwa beliau bercita-cita untuk menjadikan Desa Cijedil ini sebagai Desa wisata, tepatnya agrowisata. Diharapkan 3-4 tahun kedepan kawasan yang ditanami bibit pohon ini sudah bisa dinikmati oleh pengunjung. “Pastinya akan kami perbaiki tatanan kawasan ini, mungkin dengan adanya rumah huni, bisa untuk camping, kami akan mempercantik kawasan ini agar layak menjadi kawasan wisata” tutur pak Kades.
Saat aku ikut serta dalam penanaman 1000 pohon di desa Cijedil, aku merasakan semangat dari para petani yang meskipun saat itu turun hujan tapi beliau-beliau ini dengan sabar membantu kami yang masih belum terbiasa menanam bibit pohon.
Kawasan yang dijadikan tempat penanaman bibit pohon memang masih berupa kawasan liar yang belum terurus, banyak pohon-pohon yang tidak jelas jenisnya juga rumput-rumput liar. Dengan ditanaminya bibit pohon manggis dan lain-lain diharapkan nantinya kawasan hutan tersebut akan bisa dikelola dengan lebih baik.
Setelah ikut membantu proses penanaman pohon manggis, kami sudah disediakan beberapa hasil bumi dari masyarakat sekitar diantaranya jagung, kacang tanah, ubi, pisang, singkong yang semuanya direbus bebas minyak. Ada juga minuman sari markisa yang seger banget. Satu lagi, ternyata kelompok tani desa Cijedil juga membudidayakan ulat sutera dengan pohon murbei sebagai makanannya.
Senang sekali rasanya mengetahui ada pihak-pihak yang perduli pada lingkungan sekaligus pada kesejahteraan masyarakat sekitar. Semoga langkah Penghijauan yang dilakukan oleh masyarakat ke. Cugenang bisa diikuti oleh daerah-daerah lainnya, dan juga semakin banyak pihak-pihak yang peduli dengan issue penurunan fungsi hutan ini.
Selain diperlukan kesadaran dari masyarakat sekitar agar perusakan hutan tidak terjadi terus-menerus. Harus ada pihak-pihak yang mau mengulurkan tangan membantu memberikan solusi bagi permasalahan tersebut.
Karna seyogiyanya bumi ini bukanlah warisan dari nenek moyang kita akan tetapi kita meminjam nya dari anak cucu kita. Jadi mari kita jaga bumi kita ini dengan baik agar tetap hijau untuk masa depan yang lebih baik.
Sumber: Hasil kajian Penyuluh Kehutanan Balai Besar TNGGP (2016)

One Response

  1. Mayuf 21 Maret 2018

Leave a Reply

Follow Me on Instagram