Review Film Jembatan Pensil : Belajar Bersama Alam

Setiap daerah atau setiap tempat pasti mempunyai kebiasaan dan cerita tersendiri yang menjadi ciri khas masyarakat didaerah tersebut. Aku yang hidup dipulau Jawa tepatnya Jawa Barat dengan latar belakang hidup dan tumbuh di pedesaan pasti mempunyai kebiasaan yang berbeda dengan teman-teman lain yang hidup didaerah pantai misalnya, dari makanan sehari-hari, mata pencaharian masyarakat dan juga kebiasaan lainnya yang pastinya mempunyai perbedaan. 

Kemarin tepatnya minggu 03/09/17 aku menghadiri acara Gala Premier Film Jembatan Pensil karya Grahandhika Visual. Kira-kira dari judulnya temen-temen bisa nebak gak cerita film ini tentang apa? Ok daripada temen-temen lam mikirin tentang apa filmnya, aku Kasih bocoran sedikit ya tentang film ini.

Identitas Film 
Judul : Jembatan Pensil
Produksi : Grahandhika Visual
Produser Eksekutif : La Ode Haerun Ghowe
Produser : Tyas Abiyoga
Produser Pelaksana : Rahmat Suardi
Sutradara : Hasto Broto
Penulis Skenario : Exan Zen

Pemain :
Anak-anak :
Didi Mulya : Ondeng
Azka Marzuki : Azka
Permata Jingga : Yanti
Nayla D. Purnama: Nia
Angger Bayu : Inal
Vickram Priyono : Attar

Dewasa :
Kevin Julio : Gading
Andi Bersama : Pak Guru
Alisia Rininta : Bu Aida
Meriam Bellina : Ibu Farida
Agung Saga : Arman

Sinopsis
Film Jembatan Pensil ini menceritakan kisah masyarakat di Sulawesi Tenggara tepatnya di Kab. Muna, cerita yang diangkat adalah anak-anak yang belum bisa mendapatkan pendidikan dengan layak. Tentang cita-cita, persahabatan, dan perjuangan. Tokoh-tokoh yang dimunculkan mewakili karakter masyarakat dengan keseharian sebagai nelayan, penenun, pemecah Batu dan juga beternak sapi/kuda. 
Setiap pagi anak-anak berangkat menuju sekolah ditepi pantai yang hanya beralaskan pasir pantai tanpa adanya tembok atau ubin, dengan jarak yang cukup jauh beberapa anak harus melewati bukit dan sungai untuk sampai di SD Towea tempat  mereka bersekolah. 
Adalah terdapat 5 orang sahabat Ondeng, Inal, Azka, Yanti, dan Nia yang selalu bermain bersama dan juga saling tolong-menolong. Ondeng yang mempunyai keterbelakangan mental serta inal yang tidak bisa melihat tetap diperbolehkan untuk bersekolah meskipun mereka tidak bisa mengikuti pelajaran dengan baik. 
Setiap pagi ondeng selalu menunggu teman-temannya saat menyebrangi sungai melewati jembatan yang sudah lapuk, untuk memastikan bahwa teman-temannya menyebrang dengan selamat. Meskipun ondeng memiliki keterbelakangan mental tetapi hatinya baik dan dia juga pintar menggambar.

Kabar baik dari Pak guru disekolah adalah akan ada guru baru yaitu Bu Aida yang datang dari Jakarta, Bu aida ini adalah Putri dari pak guru yang sudah menyelesaikan kuliahnya dijakarta. 

Bu Aida yang ikut mengajar di SD Towea sering mengajak anak-anak untuk belajar di alam terbuka seperti di bukit dan gua, Gading pun sering ikut menemani mereka dan menjelaskan sejarah-sejarah tempat tersebut. Dengan keterbatasannya apakah ondeng bisa mewujudkan cita-citanya membangun jembatan untuk teman-temannya? Bagaimana selanjutnya kisah persahabatan mereka berlima?

My Opinion
Setelah menonton film jembatan pensil ini, menurutku film ini memang cocok banget untuk tontonan keluarga, para orangtua bisa mengajak anak-anak untuk menonton film ini dan banyak banget pelajaran yang bisa diambil. Kita juga akan disuguhkan pemandangan yang sangat menakjubkan di kab. Muna, berupa pantai, laut, bukit dan juga gua-gua yang belum banyak terekspose oleh masyarakat umum.

Sayangnya karakter anak-anak difilm ini kurang dimaksimalkan, masih banyakan adegan para orang dewasanya, padahal aku yakin anak-anak ini adalah point of interest dari film. Tapi akting tante mer dan Kevin julio Bagus kok, akting tante mer dapet banget saat jadi bu farida dang juragan tenun dan aku suka karakter pak guru di film ini, mengingatkan pada sosok umar bakri sang legend.

Film Jembatan Pensil mulai tayang 7 September 2017 di bioskop-bioskop Di Indonesia, nah jangan lupa ya save the date. 

Leave a Reply

Follow Me on Instagram