Yogyakarta Kembangkan Desa Wisata Budaya Gedangsari Bersama Yayasan Pendidikan Astra Michael D. Ruslim (YPA-MDR)

Sumber : Ensiklopediaindonesia.com

Indonesia adalah negeri yang kaya akan adat istiadat dan kebudayaan, tercipta dari berbagai macam suku, bahasa dan juga tradisi yang berbeda-beda menjadi suatu kebanggaan tersendiri bagi Indonesia. Namun untuk mempertahankan kebudayaan tersebut tidaklah mudah, harus dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan.

Yogyakarta adalah salah satu kota di Indonesia yang kental dengan tradisi dan adat budaya jawa, kota yang mempunyai predikat Daerah Istimewa ini memang sangat terkenal dengan wisata budayanya.

Beberapa tempat seperti Keraton Kesultanan Yogyakarta, Taman Sari, Candi Prambanan menjadi objek wisata budaya yang wajib dikunjungi saat bertandang ke kota gudeg ini.

Selain tempat-tempat yang tadi aku sebutkan masih banyak sekali daerah yang dijadikan kawasan wisata seperti daerah Gunung Kidul dan Bantul. Aku sendiri pernah mengunjungi Gunung Kidul saat berwisata ke Yogya tepatnya ke Pantai Drini dan Pantai Indrayanti, selain kedua pantai tersebut masih banyak tempat wisata lainnya seperti pantai sepanjang, pantai pok tunggal, pantai krakal, pantai baron dan masih banyak pantai lainnya di Gunung Kidul.

Pantai-pantai di Gunung kidul memang cukup terkenal keindahannya sehingga membuat para wisatawan tertarik untuk datang kesana. 

Saat ke Bantul aku sempat mengunjungi Hutan Pinus Imogiri yang sangat asri dan nyaman, tidak salah kalau para wisatawan baik dari lokal ataupun mancanegara juga tertarik untuk berkunjung kesana. Hutan pinus ini sangat cocok untuk relaksasi sejenak meninggalkan kepenatan aktifitas pekerjaan.

Dan sebagai informasi saat ini juga sudah diresmikan sebuah Desa wisata Budaya di Desa Tegalrejo, Gedangsari, Gunungkidul, dalam acara yang bertajuk “Pesona Gedangsari”. Desa Wisata Budaya ini diresmikan oleh Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengkubuwono X yabg juga bekerjasama dengan Grup Astra melalui Yayasan Pendidikan Astra – Michael D. Ruslim (YPA-MDR).

Berawal dari sebuah keinginan untuk mengenalkan potensi Desa Tegalrejo ke masyarakat luas, PT Astra International Tbk melalui Yayasan Pendidikan Astra – Michael D. Ruslim (YPA-MDR) menjadi penggagas utama untuk merintis sebuah desa wisata budaya berkolaborasi dengan paguyuban komite sekolah dan masyarakat yang ada di Desa Tegalrejo.
Sekilas Tentang Yayasan Pendidikan Astra – Michael D. Ruslim (YPA-MDR)
Yayasan Pendidikan Astra Michael D. Ruslim (YPA-MDR) secara khusus didirikan oleh PT Astra International Tbk untuk melaksanakan tanggung jawab sosial perusahaan kepada masyarakat di bidang pendidikan di daerah prasejahtera.
Sesuai dengan butir pertama filosofi Astra, Catur Dharma, yaitu “Menjadi Milik yang bermanfaat bagi Bangsa dan Negara,” YPA-MDR memiliki visi untuk menjadi lembaga sosial yang terkemuka dan kredibel di bidang pendidikan, khususnya di daerah agar seluruh elemen pendidikan mampu meningkatkan kualitas dari segi akademik, intelektual dan kompetensi kecakapan hidup, seni budaya serta memiliki karakter yang didasarkan pada nilai luhur Bangsa Indonesia yang majemuk sebagai bagian dari Sistem Pendidikan Nasional.
Pola Pembinaan YPA-MDR
YPA-MDR meningkatan kualitas pendidikan di daerah prasejahtera melalui empat pilar pembinaan yaitu akademis, karakter, kecakapan hidup dan seni budaya sehingga menjadi Sekolah Swapraja menuju Sekolah Unggul.
Sejak tahun 2006, YPA-MDR membina 67 sekolah negeri, 905 guru dan 16.058 siswa. Yang terdiri dari: 54 SD, 9 SMP dan 4 SMK yang terletak di Bogor, Gunungkidul, Bantul, Lampung Selatan, Pacitan, Kutai Barat, Kupang, dan Serang.
Program bantuan yang diberikan oleh YPA-MDR kepada sekolah-sekolah binaan meliputi:
Pembinaan yang meliputi empat pilar yakni:

  1. pembinaan akademis,
  2. pendidikan karakter, 
  3. kecakapan hidup dan 
  4. seni budaya menuju kepada sekolah Swapraja.

Sarana penunjang pendidikan seperti buku pelajaran untuk siswa, buku pegangan untuk guru, buku perpustakaan, perangkat UKS serta alat peraga dan media pembelajaran.
Penambahan prasarana ruangan dan renovasi gedung sekolah berikut mebel agar kegiatan belajar mengajar dapat terlaksana dengan baik dan berkualitas.
Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubuwono X menuturkan “Kecamatan Gedangsari di Gunungkidul ini akan menjadi model pusat pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat melalui potensi desa wisata yang dipadukan dengan budaya”
Bupati Gunungkidul Badingah juga mengucapkan terima kasih kepada Astra selaku penggagas untuk merintis desa wisata budaya di Kec. Gedangsari ini, “Untuk merintis Desa Wisata Budaya, pemerintah tidak bisa bergerak sendiri, tentunya kami membutuhkan bantuan dari berbagai pihak meliputi dunia usaha dan masyarakat demi memajukan Kab. Gunungkidul,” tutur Badingah.

Ketua Pengurus YPA-MDR Arietta Adrianti menambahkan pembentukan desa wisata budaya ini merupakan wujud konkrit kepedulian Astra melalui YPA-MDR di Kab. Gunungkidul sejak 10 tahun yang lalu. “Dunia pendidikan mampu berperan dan berkontribusi pada pemberdayaan masyarakat Gedangsari, khususnya Desa Tegalrejo dimana terdapat 6 SDN, 1 SMPN, dan 1 SMKN Binaan Astra menuju ekonomi kerakyatan,” tuturnya.
Dalam acara ini juga akan diserahkan 2 Piagam Pemecahan Rekor MURI Pertama: Membatik Lintas Generasi/Usia Pertama di dunia dan Pagelaran Busana Pertama di Wanajati yang pertama di Indonesia oleh Museum MURI kepada YPA-MDR, Bupati Gunungkidul Badingah, serta Indonesia Fashion Chamber (IFC) dan disaksikan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono X.
Selain itu, masyarakat yang hadir akan dihibur oleh penampilan Parade Seni dan Budaya Gedangsari seperti Wayang Kulit dan Reog Jatilan, pameran kearifan lokal kerajinan produk seperti kerajinan akar bambu dan Kampung Batik, serta makanan olahan seperti makanan berbahan Garut/Kairut, Pisang, Singkong, dan lain-lain.
Selaras dengan komitmen Astra dalam program CSR pendidikan melalui YPA-MDR di semua area binaan di Indonesia adalah sekolah dengan konsep Sekolah Eskalator, yakni sekolah dengan pola pembinaan dan pendampingan yang berjenjang dan berkelanjutan yang dapat berdampak pada pemberdayaan masyarakat menuju kesejahteraan masyarakat sekitarnya.

  • Pesona Gedangsari
Peluncuran rintisan desa wisata budaya yang bertempat di Desa Tegalrejo ini ke depan diharapkan dapat menjadi wilayah destinasi wisata baru dengan segala potensinya. Potensi tersebut ditampilkan dengan adanya kampung batik, parade seni dan budaya Gedangsari, serta pameran kearifan lokal kerajinan produk dan makanan olahan khas Gedangsari, yang bertujuan untuk memperlihatkan potensi-potensi yang ada selain batik. Dimana seluruh potensi tersebut juga memiliki prospek yang baik untuk dikembangkan ke depan.

  • Kampung Batik
Salah satu potensi di Yogya yang secara umum diketahui masyarakat tentu saja adalah batik. Di Kab. Gunungkidul, dusun-dusun di Gedangsari memiliki para pembatik yang sangat berkembang dan para pembatiknya telah mendapat sertifikasi oleh Disnaker Yogyakarta, bahkan Kec. Gedangsari memiliki motif batik khas yang telah dipatenkan. Maka kehadiran Kampung Batik dalam rangkaian acara “Pesona Gedangsari” sangat pas, mengingat banyaknya karya siswa binaan SD hingga SMKN, serta para UKM Batik Gedangsari yang sudah berkiprah dalam berbagai pameran, promosi, dan penjualan di tingkat daerah hingga taraf internasional.

  • Pagelaran Busana Pertama di Wanajati
Acara dimulai dengan “Pagelaran Busana Pertama di Wanajati” yang merupakan pagelaran busana pertama di Indonesia dan diberikan penghargaan oleh Museum MURI atas pemecahan rekor tersebut. Pagelaran busana ini juga memperlihatkan keunggulan batik yang ada di Desa Tegalrejo, Kec. Gedangsari, Kab. Gunungkidul, dan menghadirkan 90 looks yang merupakan karya dari berbagai desainer Indonesia Fashion Chamber (IFC) seperti Lia Mustafa, Dany Paraswati, Phillip Iswardono, Ratih Kristiani, Amin Hendra, dan Dandy T. Hidayat yang berkolaborasi dengan siswa SMKN 2 Gedangsari. Dari total tersebut, terdapat 60 looks yang merupakan hasil kolaborasi Dandy dengan siswa SMKN 2 Gedangsari dari penggunaan material kain hingga pengerjaannya.

  • Membatik Lintas Generasi/Usia
Pemecahan Rekor MURI lainnya juga dilakukan melalui kegiatan “Membatik Lintas Generasi/Usia” pertama di dunia yang menjadi salah satu rangkaian dalam acara “Pesona Gedangsari”. Kegiatan ini didukung oleh para pembatik mulai usia PAUD, SD, SMP, SMA/SMK, hingga para pembatik usia lanjut, dengan rentang usia mulai 5 tahun sampai dengan usia diatas 70 tahun yang semuanya berjumlah sekitar 130 orang.

  • Laboratorium Mini Zat Pewarna Alam SMKN 2 Gedangsari
Sejak tahun 2006, Astra telah membina telah memberikan kesiapan berupa pelatihan dan pengembangan budaya serta kecakapan hidup di 6 SDN, 1 SMPN, dan 1 SMKN yang ada di Gedangsari. Salah satunya juga dengan membantu meningkatkan pelestarian batik dengan menyiapkan fasilitas laboratorium mini zat pewarna alam di SMKN 2 Gedangsari yang bertujuan untuk menjadi tempat pelatihan para siswa dan masyarakat/UKM Batik agar dapat memproduksi sendiri zat pewarna alam tersebut. Terkait dengan hal tersebut, secara simbolis dilakukan Gerakan Penanaman Pohon Zat Pewarna Alam di Gedangsari.

  • Teaching Factory Perbengkelan Sepeda Motor Roda Dua
Sehubungan dengan Desa Tegalrejo yang berpotensi menjadi tujuan wisata baru, telah direncakan oleh Dispora dan BLPT Provinsi DIY adanya rintisan Teaching Factory Perbengkelan Sepeda Motor Roda Dua yang akan didukung oleh PT Astra Honda Motor dan Astra Motor Jakarta di SMKN 1 dan SMKN 2 Gedangsari yang dimana para siswanya akan unjuk kebolehan demo service motor roda yang merupakan bagian dari acara “Pesona Gedangsari”.
Aku sendiri berharap dengan adanya Desa Wisata Budaya ” Pesona Gedangan” bisa lebih mendongkrak perekonomian daerah gedang sari dengan cara mendatangkan wisatawan sebanyak-banyaknya sehingga bisa meningkatkan taraf ekonomi masyarakat sekitar.
Ahh saat berkunjung kembali ke Yogya aku harap bisa berkunjung ke Desa Wisata ini, pastinya akan banyak sekali pengalaman-pengalaman menakjubkan saat mmengunjungiDesa Wisata Budaya Gedangsari ini.

Semoga dengan dibukanya Desa wisata Budaya ini bisa memotivasi daerah lain agar bisa terus mengembangkan potensi masing-masing daerahnya.

Dukungan dari Yayasan Pendidikan Astra – Michael D. Ruslim (YPA-MDR) merupakan bukti konkrit Semangat 60 Tahun Astra untuk Indonesia, dengan adanya program bantuan dari astra diharapkan bisa memotivasi juga pihak-pihak lain untuk bisa ikut berkontribusi dalam hal pembangunan potensi daerah.

One Response

  1. Kemana-lagi 21 Februari 2018

Leave a Reply

Follow Me on Instagram